Kedokteran ITB

 

Alkisah, saat masa-masa SMA dulu, saat sesi pelajaran Bimbingan Kounseling, ibu guru menanyakan kepada kami

“Setalah SMA ini, kalian mau lanjut kuliah di mana?” Tanya bu guru.

Kebanyakan jawaban dari teman-teman saya adalah kedokteran. Dan kalaupun bukan kedokteran, pasti jurusan teknik di ITB. Saat itu saya hanyalah siswa SMA yang hanya tau belajar untuk ulangan, dan maen game sepulang sekolah. Gak ada dalam pikiran saya setelah lulus SMA ini mau ngapain. Hanya seorang anak kecil yang hidup dan menikmati masa kini saja. Akhirnya tibalah giliran saya menjawab pertanyaan itu.

“Kamu mar? Mau kuliah di mana?” Tanya bu guru.

Spontan saya menjawab, “Kedokteran ITB bu!”

Seisi kelas, “hahahahahahaha.”

Hey, kenapa mereka mentertawakan pilihanku? Apa salahnya memilih Kedokteran ITB? Kedokteran yang sedang booming, seakan-akan menjadi jurusan favorit, dan ITB sebagai kampus favorit. Wajar kan kalau saya mau melanjutkan kuliah di jurusan terbaik dan kampus terbaik. Apa mereka meremehkanku untuk bisa masuk ke sana? Pikiran-pikiran ini hanya kusimpan dalam hati saja.

Akhirnya, ketika di tahun 2005 saya mengikuti bimbingan intensif untuk SPMB pertama saya di Bandung, pertanyaan atas kejadian tersebut terjawab. Ternyata tidak ada jurusan Kedokteran di ITB :O sial!! Pantas mereka tertawa ngakak saat itu. Saya jadi ikut tertawa, menertawakan kebodohan saya saat itu.

Saya mengambil tes IPC untuk SPMB, memperbanyak opsi. Awalnya pil 1 Kedokteran Unpad, pil 2 Ilmu Komputer Brawijaya, dan pil 3 Akuntansi Brawijaya. Tapi di hari pengumpulan berkas pendaftaran SPMB, saya termakan oleh rayuan ayah saya untuk mengganti pil 2 menjadi Kedokteran Brawijaya. (Saat itu passing grade Kedokteran Unpad dan Kedokteran Brawijaya hanya beda tipis 1%, membuat kesempatan saya masuk Kedokteran Brawijaya hanya 1%).

Kalo udah jodoh ga akan kemana. Di hari pengumuman SPMB 2005, ternyata saya nyangkut juga di pilihan ke-2. Kedokteran Brawijaya i’m coming!!! Gak ding, ga sesemangat itu juga saya masuk ke sana. Haha.

Ternyata kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran tidak semenyenangkan yang saya kira. Saya mulai berontak untuk keluar. Akhirnya saya diizinkan untuk mengikuti SPMB lagi di tahun 2006. Kali ini saya pikirkan matang-matang pilihan SPMB saya. Satu-satunya jurusan yang saya minati saat itu adalah Informatika ITB (di pilihan SPMB tergabung di STEI ITB), karena itu juga saya mengambil opsi tes IPA saja. Karena saat ini saya mengikuti SPMB di malang, dan pilihan harus ada min 1 di regional yang sama, saya mengambil pil 1 STEI ITB, dan pil 2 Teknik Elektro Brawijaya. Kenapa pil 2 bukan Informatika ITS? simpel, karena surabaya panas, haha.

Tapi ternyata keberuntungan berkata lain. Saya hanya tersangkut di pilihan kedua, Teknik Elektro Brawijaya. Atau mungkin bukan salah keberuntungan, tapi kemampuan. Saya dihadapkan pada 3 pilihan saat ini.

  1. Terus berkuliah di Kedokteran Brawijaya, dan tahun depan ikut SPMB lagi
  2. Berpindah jurusan ke Teknik Elektro Brawijaya, bisa ikut SPMB lagi, bisa juga tidak
  3. Berhenti dari Kedokteran Brawijaya, tidak mengambil Teknik Elektro Brawijaya, dan SPMB lagi

Karena saat itu saya sudah tidak betah dengan kedokteran, opsi 1 lewattttt. Kalau saya ambil opsi 2, dan ikut SPMB lagi, ah, ini bakal buang-buang uang masuk kuliah aja. Kalau saya ambil opsi 2 dan tidak SPMB lagi, rasanya seperti ada ganjalan di hati saya “keluar dari kedokteran dan cuma bisa dapet Elektro Brawijaya” seperti turun level. Apalagi setelah saya mendapat nasehat dari seorang teman di kedokteran.

“Jangan diambil mar elektro brawijayanya, sayang itu buat kamu.” Kata Ifat.

Dia bukan teman dekatku, tapi karena bukan teman dekatku itulah yang membuat nasehat ini lebih berarti. Dia yang tidak terlalu mengenalku saja bisa bilang begitu. (Mungkin yang mengucapkan ini sudah lupa, haha). Akhirnya saya makin mantap untuk mengambil opsi 3. Beruntung orangtua saya menyetujuinya. Banyak orang mungkin menganggap saya gila, meninggalkan kedokteran, dan tidak memiliki apa-apa. Tapi saya sudah memikirkan dan mengerti apa yang harus saya lakukan.

Di tahun 2006 saya menetapkan kaki di Bandung, meninggalkan Kota Malang tercinta, untuk mengambil bimbingan belajar selama 1 tahun. Fokus untuk menaikkan nilai-nilai yang kurang demi Informatika, eh STEI ITB.

Akhirnya tibalah saat SPMB 2007, SPMB ketiga (terakhir) saya. Karena ini terakhir, saya harus memikirkan dengan serius pilihan saya. Pil 1 tetap STEI ITB, dan pil 2 FMIPA ITB (saya mengincar jurusan Matematika). Perjuangan saya di SPMB 2007 ini, sampai-sampai banyak yang harus ditumbalkan (seperti di cerita saya sebelumnya), ternyata tidak sia-sia. SPMB 2007, akhirnya saya lolos juga ke STEI ITB Β Yes!!!! (mungkin orang-orang yang menganggap saya gila dulu sekarang mencabut kata-katanya)

Setelah dipikir-pikir, omongan saya waktu SMA menjadi kenyataan juga. Saya memang akhirnya berkuliah di Kedokteran Brawijaya dan STEI ITB, jika disingkat menjadi Kedokteran ITB. Hahaha.

Advertisements

18 comments on “Kedokteran ITB

  1. Ifat says:

    terus, akhirnya nggak jadi masuk informatika juga ya mar…hahaha

  2. nate says:

    wew.. penuh perjuangan .. salut..
    tapi akhirnya masuk elektro jugak .hehe.. smangat mar..

  3. Asop says:

    Eh eh, saya gak tahu nih, jadinya sekarang kuliah di mana? πŸ˜€

  4. bima says:

    wah keran πŸ˜›

  5. Johan says:

    gimana kesan kuliah di kedokteran? :p

  6. siwi says:

    tapi ya mar,
    seandainya aku dulu tau kehidupan ‘asli’ anak FK (di RS) dan ribetnya kedepannya stelah lulus,
    mungkiiiiin aku juga gak mau masuk FK, hahahaha XD

    tp udah kepalang basah, nyemplung ajalah sekalian XD

    nice story, thumbsup!!!

  7. Kayaknya ga cuma FK yg ribet ni di elektro ga kalah ribet juga, haha. Tapi kalo hati seneng mau ribet gimana juga enak ngejalaninya

  8. Ella says:

    Memang gak enak jadi mahasiswa/i FK, jadi kalo dari hati dasarnya gak ada passion kesana, mending jangan diambil deh, kasian kan orang lain yang bener-bener mau jadi dokter, tapi kamu malah buang-buang kesempatan = memotong rejeki orang.

    Itu saran aja sih dari saya pribadi, btw saya mahasiswi FK di Brawijaya ..
    Dan bilang begini karena kasian sama anak-anak yang sebenarnya punya peluang lulus FK, tapi gak lulus. Eh, di sisi lain malah ada yang buang-buang gitu aja.

  9. hilyah says:

    kamu memang bnar2 hbat ka maru, kmu gak ptus asa dlam mraih cita-cita. sya sangat salut. wlaupun kmu sring main gma sma mles2an tp akhirnya kamu brhasil. sya jdi inget pepatah jangan prnah meremehkan orang lain, bisa jadi orang yg dremehkan bisa lbih sukses. seju2rnya sya jga thun ini bru mngikuti tes msuk kedokteran lwat jalur snmptn tertulis, jurusa kedokteran di ui dan unpad. dan hasilnya ga2l keduaduanya. tpi, sya gak akan ptus asa. stelah mendngar crita kmu saya jdi yakin. man zada wa jada, siapa yg bersungguh-sungguh pasti berhasil. amin ^_^

  10. masta says:

    that’s great ……..

    Tetap smangad !!!

  11. huakakakaka bravo!! jadi ente tetep kelahiran 89 meski masuk 2007 kan? atau u udah tua sebenernya mar? kwkwk

  12. kedokteran ITB πŸ˜€

  13. Pergunakan waktumu di ITB-mu dan cepat selesaikan insinyur-mu orang-tua kita amat sangat

    menunggu “borjuis day”-mu , jangan buang meski hanya waktu se-detikmu.Anda hebat benar2

    (kalau boleh saya mengatakan) anda type seorang fighter……..Salam Hyppocrates Cerdas !!

    …………doktertoeloes “swiss van java”………..saluuuuuuuuuuuuutt……….

  14. oppanoe says:

    nice moment πŸ‘πŸ‘
    terharu saya bro….kuliah di kedokteran adalah bagian dari mimpi besar saya 😦 tapi sayang itu hanya sekedar mimpi dan takdir saya berkata lain saya kuliah di bidang komputer d unsri..salam kenal

Feel Free To Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s