Dream #004

 

Perlahan aku membuka mataku. Semua masih tampak samar-samar. Beginilah pandangan mata ketika baru bangun tidur. Aku masih belum mau beranjak dari kasurku, masih ingin bermalas-malasan. Aku melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan  pukul 11.45, tapi segera kusadari, jam itu rusak. Aku beralih mencari handphoneku untuk melihat jam. Biasanya aku letakkan handphone tidak jauh dari posisi tidur. Ternyata sekarang jam 8 pagi, pantas kamarku sudah terang oleh cahaya matahari yang menyusup lewat jendela.

Tok Tok Tok! “Mar, boleh aku masuk?”

Aku heran, tidak biasanya pintu kamarku diketuk. Kalau ada apa-apa biasanya keluargaku selalu memanggil dari luar. Lagipula, rasanya aku kenal suara itu. Sebelum aku sempat menjawab, pintu kamarku sudah terbuka. Dia langsung masuk, dan duduk di kasurku. Aku masih gak percaya kalau itu memang dia. Buat apa dia datang ke sini? Bukankah kami sudah setuju untuk tidak bertemu lagi. Tapi tidak mungkin juga aku mengusirnya, aku juga senang bisa bertemu dengannya.

“Eh mar, aku mau cerita.” Tiba-tiba dia sudah membuka obrolan.

“Ayahku dateng ke jakarta, ada suatu urusan gitu deh.”

“Oh ya? Trus ayah kamu tinggal di mana?”

“Masih satu gedung sama apartementku, tapi ayahku di lantai atas”

“Ooh”

Dia menarik lenganku. Memaksaku untuk merebahkan kepalaku dipangkuannya. Aku menurut saja. Lalu dia mulai membelai rambutku. Kami melanjutkan obrolan beberapa saat. Lalu aku menarik kepalaku.

“Eh, aku mesti pergi ke kampus ini, sampai nanti ya”

Dia pergi, dan aku mulai bersiap-siap untuk ke kampus. Kira-kira jam 10 aku sudah sampai di kampus. Aku langsung menuju ke labku. Tapi di lorong aku berhenti sejenak. Mengobrol dengan beberapa teman. Lalu mas Edes menyapaku.

“Lho mar, kok kamu di luar?”

“Emang kenapa mas?”

“Kamu bukannya hari ini giliran asisten ya?”

Aku langsung memutar otak. Mencoba mengingat hari apakah saat ini. Damn! Ternyata hari ini memang hari senin. Aku cepat-cepat meletakkan tasku ke labku. Lalu langsung menuju ruang praktikum. Setelah memastikan Pak Mervin gak ada di dalam ruangan, aku langsung menyelinap masuk, dan langsung berlagak asisten.

“Jadi sudah sampai mana mengumpulkan data-datanya?”

“Ada kesulitan engga?”

Faded memories, reconstructed memories, and a dream. A dream of you, in a world without you.

—— Sora of KH ——

Advertisements

Feel Free To Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s