poll: mencintai atau dicintai?

Idealnya memang akan lebih indah jika kita dapat mencintai sekaligus dicintai oleh seseorang. Tapi dalam prakteknya tidak selalu begitu. Kadang dalam pencarian cinta harus bertepuk sebelah tangan. Tadinya saya mengasumsikan, mayoritas pria akan lebih memilih mencintai, sedangkan mayoritas wanita lebih memilih dicintai. Mungkin ini akibat dari social convention dimana pria harus aktif mencari wanita, dan wanita menunggu pria mendatanginya. Walaupun sekarang mulai banyak wanita yang aktif, mungkin akibat dari emansipasi wanita, tapi secara mayoritas tetap pria lah yang harus lebih aktif.

Saya sendiri lebih memilih mencintai daripada dicintai. Saya selalu merasa risih disukai oleh cewek yang bukan target saya, mungkin karena ada rasa bersalah ‘maaf, tapi aku gak suka kamu’. Sedangkan jika cinta saya ditolak, maka saya cukup pindah ke target berikutnya. Prakteknya sih tidak semudah itu, harus lewat masa galau dulu, but i can live with that. Selain alasan itu, pengalaman saya juga menyatakan demikian. Saya pernah punya pacar yang pernah benar-benar saya cinta, tapi akhirnya kandas. Setelah itu saya mencoba pacaran dengan cewek yang cinta saya. Memang awalnya saya bisa membalas cintanya, tapi lama-kelamaan terasa ada yang kurang. Naluri saya tidak bisa berpuas diri dengan tidak mengejar seseorang yang saya cinta.

Nah, manakah yang kalian pilih? Silahkan isi vote di bawah ini. Jika ingin berargumen, silahkan mengisi komentar.

Advertisements

got friendzoned

And tonight
I want to write about you

You that really kind and tender
Not just on the outside
But you yourself reflect all your kindness inside your heart
Your caring and love
Your patient and respect

I really honor you
as one of my most real kindhearted best friend
I believe that whatever you do
whether it is for family or friend
You will do it as good as you do it for yourself
I believe you will do even better than you do things for your self

As I know you this couple of months
There’s no single thing you do that’s not good or just selfishly thinking about yourself
I don’t know.. i just afraid that you never thought about yourself

Hei you…
Yes you…

I really care about you
After all that you’ve done for me
which i believe that you would surely did to all your friend

I really thank you.. so much for that..

I hope that we can always be friend
Until the death tear us apart. kekeke 🙂

Love,

Your friend

My Friend

The Madman

My Friend

By Khalil Gibran

My friend, I am not what I seem. Seeming is but a garment I wear—a care-woven garment that protects me from thy questionings and thee from my negligence.

The “I” in me, my friend, dwells in the house of silence, and therein it shall remain for ever more, unperceived, unapproachable.

I would not have thee believe in what I say nor trust in what I do—for my words are naught but thy own thoughts in sound and my deeds thy own hopes in action.

When thou sayest, “The wind bloweth eastward,” I say, “Aye it doth blow eastward“; for I would not have thee know that my mind doth not dwell upon the wind but upon the sea.

Thou canst not understand my seafaring thoughts, nor would I have thee understand. I would be at sea alone.

When it is day with thee, my friend, it is night with me; yet even then I speak of the noontide that dances upon the hills and of the purple shadow that steals its way across the valley; for thou canst not hear the songs of my darkness nor see my wings beating against the stars—and I fain would not have thee hear or see. I would be with night alone.

When thou ascendest to thy Heaven I descend to my Hell—even then thou callest to me across the unbridgeable gulf, “My companion, my comrade,” and I call back to thee, “My comrade, my companion“—for I would not have thee see my Hell. The flame would burn thy eyesight and the smoke would crowd thy nostrils. And I love my Hell too well to have thee visit it. I would be in Hell alone.

Thou lovest Truth and Beauty and Righteousness; and I for thy sake say it is well and seemly to love these things. But in my heart I laught at thy love. Yet I would not have thee see my laughter. I would laugh alone.

My friend, thou art good and cautious and wise; nay, thou art perfect—and I, too, speak with thee wisely and cautiously. And yet I am mad. But I mask my madness. I would be mad alone.

My friend, thou art not my friend, but how shall I make thee understand? My path is not thy path, yet together we walk, hand in hand.

~~~<(———)>~~~

ps: This prose is one of many works from Khalil Gibran. Taken from his book The Madman. I like it because this prose is easy to understand.

25 to life

wow.. it’s not about KIM.. the lyrics are RIGHT THERE!
it’s a metaphorical song about how Hip Hop Community treats Eminem like shit.. even though Eminem gave the Hip Hop community his life and soul plus more..
yes, Eminem is popular.. but ask most people in the Hip Hop Community who their favorite rapper is, check all the top Hip Hop Rapper lists, and just when the topic Hip Hop comes up.. and Eminem is no where to found…
Eminem feels like he isn’t getting the full respect he deserves…
ratedkash2 – youtube

Nevertheless, this song fits perfectly for a girls who fails you greatly

Eminem – 25 To Life

Eminem – 25 To Life (lyrics) Continue reading

menghindari tertabrak dari belakang

Sebagai seorang pengendara motor, sudah sepantasnya untuk selalu fokus. Tidak hanya menatap ke depan, tapi menyebar ke segala arah. Hal ini perlu untuk mengkalkulasi pergerakan objek-objek lain di jalan, dan bagaimana kita bereaksi atas aksi objek-objek tersebut. Tapi, mau berusaha bagaimanapun, tetap saja manusia memiliki keterbatasan arah pandang. Sebagai manusia normal, kita tidak dapat melihat apa yang ada di belakang kita. Peradaban manusia menghasilkan alat yang bernama spion. Dengan alat ini kita dapat melihat sebagian area di belakang kita. Walaupun begitu tampaknya tidak semua orang memanfaatkan spion ini dengan baik, what a waste.

Saya sendiri tidak setiap waktu menengok ke spion, paling-paling ketika akan bergeser jalur, berbelok, dsb. Hal ini tidak mencukupi kebutuhan merasa aman tidak ditabrak dari belakang. Setelah dilakukan analisis, kita dapat ditabrak dari belakang ketika kendaraan lain melaju lebih cepat dari kendaraan kita, dan kita yang melaju lebih lambat menghalangi jalur geraknya. Masalah sudah teridentifikasi, sekarang tinggal mencari solusinya. Bagi saya, solusi yang paling cocok adalah, dengan melaju lebih cepat dari kendaraan lain, sehingga saya tidak akan tertabrak dari belakang. Dengan asumsi saya melaju lebih cepat dari kendaraan lain, maka saya dapat mengeliminasi kebutuhan untuk melihat kebelakang.Tentu saja asumsi ini tidak bisa berlaku 100%, karena pasti ada saat-saat saya menjadi lebih pelan, untuk berbelok misalnya, dan masih banyak juga kendaraan-kendaraan yang berkapasitas mengebut lebih besar dari motor saya, ninja 150RR misalnya.

Solusi ini lebih baik daripada berdiam diri saja, mengharap orang lain dapat mengemudi dengan baik dan tidak menabrak kita. Menggantungkan nyawa pada kemampuan orang lain, ew. Ini adalah salah satu dari sekian banyak alasan mengapa saya suka mengebut, hehe.

what do you live for?

Ada suatu pepatah yang mengatakan “Someone who is not busy living, is busy dying”. Membuatku memikirkan, apa saja yang sudah kulakukan (bulatkan saja) 24 tahun ini. Is it living or is it dying? Dan ternyata, mayoritas masuk kategori dying. Dying itu gak enak, sengsara, apalagi kalau harus dying bertahun-tahun. Lebih baik kalau segera pindah ke state dead. But my consciousness won’t let me change my state easily.

Jadi, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah get busy living. So, how do i get busy living? Karena dying itu gak enak, berarti living harus menyenangkan. So, what makes me really happy? Aku suka bermain, terutama main game. Jadi, anggap aja hidup ini adalah sebuah permainan. Salah satu komponen dalam game, adalah achievement. Sebelum game of life ini berakhir, setidaknya ada beberapa achievement yang ingin kudapat.

  • A Good Rider

Achievement ini sih rasanya sudah aku dapatkan. Lima tahun lebih sudah menjadi pengendara motor. Melewati kerasnya lalu lintas bandung. Aku bisa ngebut dengan menyenangkan kalau traffic sedang ramah. Mungkin, kalo bisa, aku ingin meng-upgrade ZX130R ini menjadi Ninja, atau lebih keren lagi BMW S1000RR.

  • A Good Drummer

Sejak kecil, aku merasa buruk di bidang seni. Gak ada satupun alat musik yang bisa kumainkan. Tapi setidaknya ada yang membuatku tertarik, yaitu bermain drum. Memainkan lagu-lagu bersama bandku. Aku belum detail memikirkan bagaimana aku mau mendapatkan achievement ini. Yang terpikir sekarang adalah, nanti kalau sudah punya banyak uang, aku akan membeli drum set ku sendiri, lalu bisa berlatih di rumah.

  • A Good Dancer

Tiap mendengar musik yang beat nya asik, rasanya ingin menggerakkan badan ini, berjoget. Tapi sampai sekarang hal itu gak pernah terjadi. Aku hanya menari dalam pikirin saja. Bagaimana caranya belajar menjadi dancer? Seperti orang-orang di film Step Up itu. Seenggaknya aku ingin bisa melakukan gerakan seperti mereka. Entah juga bagaimana merealisasikan ini. The nerd way, beli xbox dan kinectnya, lalu maen game dancing. Dan kalau punya banyak uang, aku ingin punya ruang koreografi di dalam rumahku, dengan kaca-kaca di semua sisi.

  • A Good Writer

Sejak kecil aku sudah hobi menulis. Mencoba membuat cerpen-cerpen sendiri. Mungkin ini akibat hobi yang lain, yaitu membaca. Tapi sekarang sudah lama aku tidak membaca novel, sehingga kemampuan menulis cerita tidak terasah. Setidaknya, agar kemampuan menulis tidak tumpul-tumpul amat, aku masih berusaha menulis blog. Menurutku, menulis dengan pena tetap lebih menyenangkan dibanding mengetik. Karena itu aku sampai punya TA logbook, yang ditulis dengan old fashioned way. Nantinya, aku ingin punya buku yang diterbitkan secara luas, dan banyak dibaca orang, kalau perlu sampai dibuat filmnya juga.

  • A Good Father

Bayangkan saja Ted Mosby dari serial How I Met Your MotherUntuk jadi seorang ayah, berarti harus punya istri dulu, dan mencari istri itu bukan hal yang gampang. Jangankan istri, cari pacar aja susah, damn, haha.

layakkah kamu menyandang agamamu?

Menyandang nama ITB itu berat. Rasanya setiap orang mengharap sesuatu yang lebih dari anak ITB. Saya memang belum lulus, tapi rasanya menyandang gelar Sarjana Teknik, lulusan Teknik Elektro juga bukan hal yang mudah. Sebagai anak elektro sudah sepantasnya kan kita mengerti tentang keelektronikaan.

Sekarang bandingkan dengan titel kita yang lain, yang mayoritas sudah dimiliki sejak lahir, agama. Pantaskah kita mengaku kita beragama ‘ini’? Bagaimana jika seseorang bertanya sesuatu tentang agama kita, dan kita tidak bisa memberi jawabannya. Masih lebih baik kalau kita hanya tertunduk, malu, tidak bisa menjawab, dibanding kita menjawab asal, lalu menyesatkan si penanya.

Mau tidak mau, kita punya tanggung jawab untuk mempelajari agama kita. Kalau tidak mau, lebih baik lepas saja titel itu dari kita.