dream or reality

Obrolan di hari minggu kemarin, singkat cerita, kira-kira seperti ini.

Me: Eh, Premium Rush udah tayang tuh, kamis besok ya kita nonton.

Friend: Ah, jangan kamis, rabunya aku mesti tes ke Jakarta, takutnya belum balik. Senin aja gimana?

Me: Ok, senin besok kalo gitu. Aku yang pesenin tiketnya aja pake blitzcard.

Friend: Ok, cari yang di atas jam 6 ya.

Setelah akhirnya ada koneksi internet, aku langsung ke website-nya. Tapi alangkah kagetnya ternyata Premium Rush belum tayang.

Me: Eh, eh, kok pas aku cek ternyata Premium Rush belum tayang ya. Hmm, trus aku dapet notifikasi kalo Premium Rush udah tayang dari mana ya?

Friend: Dari emailmu mungkin.

Me: Udah aku cek ke email juga, dan gak ada. Wah, masa notifikasi Premium Rush tayang itu cuma dalam mimpiku tadi pagi.

Friend: Hahaha, parah kamu, sampe mimpi kaya gitu.

The borderline between dream and reality getting more and more thinner.

Dream #008

Dengan terburu-buru aku memasuki ruang tunggu dan duduk di sisi kanan. Hah huh hah huh, aku mencoba mengatur ritme nafasku. Aku melempar pandangan ke sekeliling, tetapi mataku langsung terhenti pada wanita di depanku. Rupanya sejak tadi dia terus memperhatikan gerak-gerikku. Dug! Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Aku kenal wanita itu. Seseorang dari masa laluku. Pikiranku bimbang, apakah sebaiknya aku menghampirinya, menyapanya? Di tengah kebingunganku, ternyata dia menyapaku duluan.

“Eh, mar, ada kamu, apa kabar?”

“Oh, eh, baik. Mmm, kamu terlihat lebih gemuk sekarang”

Pipinya merona, tersipu malu, senyum mengembang di wajahnya.

“Ah, masa sih? Badanku kelihatan berisi ya?”

“Engga, bukan itu. Tapi terlihat dari pipimu yang jadi lebih chubby.”

“Hahaha.”

“Terakhir kali kita ketemu, kamu kurus banget.”

Terakhir kali kami bertemu, dia masih membenciku. Kami hanya bertukar pandang, tanpa sapa.

“Iya, aku habis sakit itu.”

“Jaga kesehatan. Jangan sampai kurus lagi. Kamu terlihat lebih cantik seperti ini.”

Dream #007

Tok tok tok!

Perlahan aku membuka pintu kantornya. Terlihat Pak Waskita dibalik tumpukan kertas di atas mejanya. Sepertinya beliau sedang sibuk memeriksa hasil ujian.

“Oh, kamu Mar, masuk, masuk. Ada apa Mar?”

Aku masuk ke dalam ruang kantor Pak Waskita, lalu duduk di kursi di depan meja kerjanya.

“Itu pak, kemarin ada uang yang masuk ke rekening saya. Apa itu uang gaji asisten praktikum Embedded?”

“Ooh, iya, itu emang uang gaji kamu.”

Wajahku sedikit menunjukkan kekecewaan. Tadinya aku berharap uang tersebut bukan dari gaji asisten Embedded, karena jumlahnya dibawah harapanku. Tapi, apa mau dikata, ini lebih baik daripada tidak turun sama sekali. Ya, turunnya gaji ini sudah tertunda lebih dari 1 semester. Sampai-sampai kami, para asisten, curiga bahwa kami kerja dengan cuma-cuma.

“O iya Mar, kamu jadi mau magang di PT Daun Biru itu?”

“Emm, kayaknya engga pak, soalnya lokasinya di Jakarta, sedangkan saya mau sambil mengerjakan TA1 di Bandung ini.”

“Loh, kan topik magangnya bisa dijadikan topik TA juga itu, lumayan lho.”

“Tapi saya sudah punya topik TA pak.”

“Pembimbingmu siapa emang?”

“Dengan Pak Ary, pak.”

“Ooh, Pak Ary, ya sudah, bilang aja kamu mau ganti topik.”

“Eh, gapapa gitu pak?”

“Iya, Pak Ary baik kok orangnya.”

“Baiklah kalo begitu, nanti saya bilang ke Pak Ary. Permisi pak.”

Dengan wajah tersenyum, aku berjalan meninggalkan ruang kantor Pak Waskita.

 

Disclaimer:

The event in this post is merely a dream. Any resemblance or similarities with a person are purely coincidental.

Dream #006

 

Tok Tok Tok!

Pintu kamarnya terbuka perlahan. Dia berdiri di balik pintu itu. Tangan kirinya masih memegang gagang pintu, sedangkan di tangan kanannya penuh dengan tumpukan kertas.

“Ayo, masuk. Sorry kamarku masih berantakan, ni aku lagi beres-beres.”

“Oh, gapapa, sini aku bantu sekalian aja.”

Kamarnya memang terlihat seperti kapal pecah. Kertas-kertas berserakan di lantai, meja, bahkan di kasurnya. Baju-baju juga berserakan di mana-mana, tampaknya itu baju-baju kotornya. Selimut yang belum dilipat, dan seprai yang kemana-mana. Tidak biasanya kamar cewek berantakan seperti ini. Apalagi selama ini aku mengenalnya sebagai cewek yang rapih.

Aku mulai memungut baju-baju kotornya dan meletakkannya di ember kosong yang ada di ujung kamarnya. Kertas-kertas kuambil, dan kutumpuk di mejanya. Aku beralih membereskan tempat tidurnya. Bantal, guling, dan selimut kusingkirkan dulu untuk merapikan seprainya. Setelah itu bantal dan guling kususun di bagian atas kasurnya. Baru saja aku akan melipat selimutnya, tapi dia telah menarik lenganku. Membuat tubuhku jatuh ke atas kasur. Kami sama-sama rebahan di kasur, bersebelahan. Saling bertukar pandang selama 5 menit, diam dan canggung. Aku mulai membuka pembicaraan.

“Kamu gak kerja?”

“Engga, aku udah resign.”

“Hah! Sejak kapan kamu ada di Bandung lagi?”

“Sejak sabtu kemaren.”

“Sabtu? Berarti yang aku lihat di parkiran BIP senin malam kemaren, itu kamu?”

“Iya, itu emang aku. Udahlah, kamu banyak tanya banget sih.”

“Sorry, aku masih shock aja kamu sekarang ada tepat di depanku”

Tiba-tiba dia meletakkan tangannya di atas pipiku. Mengelusnya sejenak, lalu kata-kata itu meluncur dari mulutnya.

“Cium aku dong.”

“Eh, jangan. Kamu tau kan aku gak bisa ngelakuin itu.”

“Kamu gak berubah ya”

“Hehe, mau gimana lagi. By the way, apa kabar cowokmu?”

“……”

Faded memories, reconstructed memories, and a dream. A dream of you, in a world without you.

—— Sora of KH ——

Dream #005

 

Matahari sudah hampir terbenam. Setelah puas jalan-jalan, sekarang waktunya untuk kami pulang. Tidak biasanya kami naek angkot. Sesaat dia mengeluarkan handphone-nya saat di angkot, lalu segera memasukkannya kembali. Wajahnya mulai gelisah. Dia mengeluarkan handphone-nya lagi, aku mencoba mengintip ke layar handphone-nya. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Sms dari siapa sih?” Tanyaku penasaran.

“Ah engga, ga ada apa-apa.”

“Ga mungkin, pasti cowokmu ya?”

“Emmm, iya.” Dengan gerakan ragu-ragu dia menunjukkan isi handphonenya.

Seenggaknya ada 8 miscall, dan beberapa sms yang belum dia balas.

“Balas lah, dia pasti kuatir makanya telpon-telpon, kasi tau kalau kamu udah mau pulang.” Nasehatku padanya.

“Iya, nanti kalau udah turun dari angkot.”

Faded memories, reconstructed memories, and a dream. A dream of you, in a world without you.

—— Sora of KH ——

Dream #004

 

Perlahan aku membuka mataku. Semua masih tampak samar-samar. Beginilah pandangan mata ketika baru bangun tidur. Aku masih belum mau beranjak dari kasurku, masih ingin bermalas-malasan. Aku melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan  pukul 11.45, tapi segera kusadari, jam itu rusak. Aku beralih mencari handphoneku untuk melihat jam. Biasanya aku letakkan handphone tidak jauh dari posisi tidur. Ternyata sekarang jam 8 pagi, pantas kamarku sudah terang oleh cahaya matahari yang menyusup lewat jendela.

Tok Tok Tok! “Mar, boleh aku masuk?”

Aku heran, tidak biasanya pintu kamarku diketuk. Kalau ada apa-apa biasanya keluargaku selalu memanggil dari luar. Lagipula, rasanya aku kenal suara itu. Sebelum aku sempat menjawab, pintu kamarku sudah terbuka. Dia langsung masuk, dan duduk di kasurku. Aku masih gak percaya kalau itu memang dia. Buat apa dia datang ke sini? Bukankah kami sudah setuju untuk tidak bertemu lagi. Tapi tidak mungkin juga aku mengusirnya, aku juga senang bisa bertemu dengannya.

“Eh mar, aku mau cerita.” Tiba-tiba dia sudah membuka obrolan.

“Ayahku dateng ke jakarta, ada suatu urusan gitu deh.”

“Oh ya? Trus ayah kamu tinggal di mana?”

“Masih satu gedung sama apartementku, tapi ayahku di lantai atas”

“Ooh”

Dia menarik lenganku. Memaksaku untuk merebahkan kepalaku dipangkuannya. Aku menurut saja. Lalu dia mulai membelai rambutku. Kami melanjutkan obrolan beberapa saat. Lalu aku menarik kepalaku.

“Eh, aku mesti pergi ke kampus ini, sampai nanti ya”

Dia pergi, dan aku mulai bersiap-siap untuk ke kampus. Kira-kira jam 10 aku sudah sampai di kampus. Aku langsung menuju ke labku. Tapi di lorong aku berhenti sejenak. Mengobrol dengan beberapa teman. Lalu mas Edes menyapaku.

“Lho mar, kok kamu di luar?”

“Emang kenapa mas?”

“Kamu bukannya hari ini giliran asisten ya?”

Aku langsung memutar otak. Mencoba mengingat hari apakah saat ini. Damn! Ternyata hari ini memang hari senin. Aku cepat-cepat meletakkan tasku ke labku. Lalu langsung menuju ruang praktikum. Setelah memastikan Pak Mervin gak ada di dalam ruangan, aku langsung menyelinap masuk, dan langsung berlagak asisten.

“Jadi sudah sampai mana mengumpulkan data-datanya?”

“Ada kesulitan engga?”

Faded memories, reconstructed memories, and a dream. A dream of you, in a world without you.

—— Sora of KH ——

Dream #003

 

Aku terbangun di tengah malam tadi. Masih terbayang jelas mimpi yang baru saja kualami. Mimpi, atau mungkin lebih tepatnya harapan, yang cuma bisa terjadi di alam mimpiku saja. Ini akibatnya ketika menghabiskan waktu seharian penuh memikirkan suatu hal, terbawa ke mimpi deh.

Aku mendatangi rumahnya. Dia baru saja pulang kerja bersama om dan tantenya. Aku menyerahkan kado yang memang kusiapkan untuknya, beserta sepucuk surat permintaan maaf di dalamnya. Seperti biasa, dia tidak berbicara apa-apa. Hanya mengambil kado itu, lalu masuk ke dalam rumah.

Aku masih berdiri di luar, terdiam seperti patung, tidak tahu apa yang ingin aku lakukan. Mungkin aku menunggu reaksinya setelah membaca surat itu, itupun kalau dia tidak menyobek-nyobek dan membuangnya terlebih dahulu. Tidak lama kemudia dia keluar dari rumahnya, menghampiriku.

“Terima kasih.” Katanya.

Lalu dia mengajakku ngobrol. Kami duduk di kursi di beranda rumahnya. Dia bercerita tentang masalah-masalahnya. Aku tau aku tersenyum senang saat itu.

Lalu aku bangun, melihat sekeliling. Bantal-bantalku yang berserakan, selimutku yang hanya setengah menutupi badanku. Damn, yang tadi itu cuma mimpi, haha.

Faded memories, reconstructed memories, and a dream. A dream of you, in a world without you.

—— Sora of KH ——